Rate this book

Oksimoron (2010)

by Isman H. Suryaman(Favorite Author)
3.16 of 5 Votes: 1
languge
English
genre
publisher
Gramedia Pustaka Utama
review 1: Buku pinjeman. Awalnya gw kira isinya cerpen2 penuh humor gitu, mengingat reputasi Isman HS. Ternyata novel ya. Dan cukup serius, meskipun tetap dipenuhi sama humor2 yg cerdas.Bercerita tentang sepasang pengantin baru, Alan dan Rine. Waktu pindah rumah, mereka udah kena berbagai masalah kecil seperti Alan punggungnya keseleo, trus rumah mereka kemalingan. Pokoknya awal2 ini masih ringan banget plotnya, ditambah perkenalan dengan karakter lain, seperti Andi, adiknya Alan, dan para orangtua, Dadan, ayahnya Alan, serta Turman dan Ika, orangtuanya Rine. Masalah utama muncul sejak Alan dan Rine memberitahukan orangtua mereka bahwa mereka tidak ingin punya anak. Ga cuma menimbulkan konflik dengan orangtua, tapi juga antara Alan dan Rine sendiri. Apalagi, Alan ga sepenuhnya setuj... moreu dengan rencana itu. Dia juga sebenarnya pengen punya anak, jadinya dia berusaha dengan menggunakan macam2 trik supaya bisa menghamili istrinya. Rine pun murka begitu tahu niat Alan, dan pernikahan mereka pun terancam. Kelanjutannya silahkan dibaca sendiri.Enak bacanya. Sepanjang buku diisi adegan2 dan jokes yg bikin ketawa. Misalnya, waktu para orangtua sibuk ngutak-atik akun friendster palsu buat menjebak Alan. Oksimoron sendiri memang kata yg waktu itu sempet populer di twitter, karena mencakup dua hal bertentangan yang disandingkan dalam satu kalimat. Judul2 bab ini pun semuanya mengandung oksimoron, misalnya Kasih Sayang yang Menyakitkan.----- sudah males nulis review karena lagi lemes
review 2: Hanya di balik pintu doyong rumah kontrakannya, Alan kembali memikirkan jam yang berlalu. Ijab kabulnya yang dikoreksi Uwa Turman, keputusan hidupnya untuk menikahi Rine, um ... mungkin itu yang paling sempurna kendati sedikit memalukan. Rine yang cantik, Rine yang cerdas, Rine yang akan menemaninya sepanjang waktu. Namun, nyatanya semua yang diidam-idamkan pasangan muda seperti Alan dan Rine tidak berjalan mulus. Sebagaimana datang dari latar belakang yang berbeda, tentu banyak hal-hal bertolak belakang. Mulai dari kedua besan yang silih cekcok, tuntutan mertua yang aneh-aneh, sampai keputusan Rine tentang kehamilan dan aborsi. Lantas, bagaimana komentar Alan mengenai perjalan rumah tangga barunya?"Oksimoron" kembali menarik atensi setelah beberapa tahun silam menyembul di rak toko buku hingga pekan lalu ada di rak diskonan. Ada kesan implisit di sampulnya yang dihadirkan oleh eMTe. Dari goresan kuas cat air, hingga makna unik yang ada di baliknya. "Oksimoron" sendiri memang judul yang unik sih, jarang sekali lho ada yang menggunakan frasa tersebut, bahkan sebagian orang tidak mengerti, sesungguhnya apa pesan yang ingin disampaikan oleh Isman melalui bukunya. Tapi, karena keterasingan katanya mungkin, gue jadi tertarik untuk membaca.Idenya ringan. Tipikal orang Indonesia yang datang dari beragam budaya. Dan yang paling gue nikmati adalah quotes-quotes konyol yang ada di permulaan dari setiap babnya, yang dikutip langsung dari esai yang ditulis oleh Alan Kurniawan, karakter utamanya. Alan digambarkan sebagai orang yang kritis, penyabar, pengertian, dan taat pada perintah orang tua, berbeda dengan Andi, adiknya yang hobi jotos dan selengekan. Sedangkan Rine, Rine yang bikin gue ngakak, Rine hadir sebagai sosok wanita karier, cuek, dan kadang kepalang datar, terutama dengan komentarnya yang hanya berujung "oh". Dari dua karakter utama, "Oksimoron" juga menceritakan karakter sampingan seperti Dadan, Turman (alias Uwa Turman, yang sering diplesetin jadi Uma Turman), dan Mbak Ika. Dari karakter-karakter yang dijabarkan, Alan bisa dibilang sebagai narator utama (kendati Isman menarasikan ceritanya dari sudut pandang ketiga). Alan yang digambarkan sebagai orang yang suka bergurau, selalu saja mewarnai isi percakapannya dengan humor. Bukan humor rendahan tapinya, menyangkut pada profesinya sebagai kolumnis. Tapi, lebih kepada humor yang berkelas dan membikin pembacanya ikut berpikir tentang isu-isu yang berpernah beredar."Oksimoron" tidak dapat dikategorikan sebagai yang serba-"wah", malah novel yang sederhana yang lebih merujuk kepada humor-humor satir. Humor-humor yang sifatnya nyeleneh dan menyinggung permasalahan pernikahan di negeri ini, dari segi mertua dan besan, kakak dan adik ipar, juga tentang orangtua yang ingin lekas-lekas menimang cucu. Pembacanya tidak diberatkan pada imajinasi yang berlebih, malah selalu dihibur dengan gaya bahasa yang ringan, juga percakapan-percakapan yang konyol.Iya, memang benar kalau "Oksimoron" merupakan novel pertama Isman yang gue baca, tapi melalui tulisannya, Isman tidak hanya menyampaikan kegemarannya dalam menulis humor, tapi juga dengan alur cerita yang baik, juga kata-kata yang berkelas. Tidak seperti novel-novel humor lain yang kadang malah menyepelekan masalah tata bahasa, dsb. Dalam "Oksimoron" gue belajar menangkap sebuah gaya paragraf yang unik, tentang sub-subbab yang memiliki ending yang saling berkaitan dengan kata yang memulai sub-bab baru setelahnya. Menurut gue, itu sama sekali tidak dapat disepelekan lho alih-alih terlihat fantastis dan kadang malah menjadi jamuan masuk yang unik agar pembaca tetap ingin mengikuti isi cerita.Dari lima, tiga adalah yang tepat menurut gue untuk "Oksimoron" yang memiliki humor yang berkelas, cerita yang ringan, juga isu-isu yang selalu up-to-date dan dirangkum menjadi sebuah konsep pernikahan yang menarik dan asyik. less
Reviews (see all)
manojparuthi
I don't have the privilege to review or rate my own books. So please share yours.
AgentFez
590 - 2014#Program BUBUPertama kali dibaca pada tanggal 28 Oktober 2010.
fairy
asli..ini bagaikan novel komedi yang engga biasa
Write review
Review will shown on site after approval.
(Review will shown on site after approval)