Rate this book

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita Absurd (2013)

by Maggie Tiojakin(Favorite Author)
3.8 of 5 Votes: 5
languge
English
genre
publisher
Gramedia Pustaka Utama
review 1: Gampang banget untuk mengesampingkan buku ini sebagai karya 'biasa'. Toh kita bukan pembaca yg asing thd imajinasi atau genre kepenulisan lain yang cenderung mengandalkan hal-hal fantastis. Dan buat pembaca yg terbiasa membaca genre fantastis, tentunya lebih memilih membaca karya-karya luar yg mmg sudah terbukti kualitasnya dr segi kepenulisan, alur cerita maupun kemapanan logika. Lantas apa untungnya membaca buku Maggie Tiojakin ini? Baca buku itu (hampir) sama kyk judi. Kadang hasilnya menguntungkan, kadang merugikan. Tapi bedanya dengan judi, apakah sebuah karya menguntungkan atau merugikan itu sifatnya relatif, tergantung tiap2 pembaca. Kalo judi, ketahuan jelas untung-ruginya. Membaca ceritanya lain lagi. Versi untung membaca sebuah karya itu bila kita merasa 'kaya' s... moreetelah membacanya. Kaya apa? Wawasan. Pengertian. Compassion. Gambaran kita tentang hidup jadi lebih berwarna. Sedangkan versi rugi membaca sebuah karya itu bila kita merasa 'miskin' setelah baca. Miskin gimana? Ya, itu. Nggak nambah apa-apa. Wawasan ya nggak. Pengertian ya nggak. Compassion ya nggak. Flat. Tapi, tapi .... (hampir) sama juga dgn judi ... sebelum baca kita butuh modal. Kalo di judi modalnya duit, dalam membaca modalnya pikiran terbuka. Semakin terbuka pikiran kita, semakin besar peluang untuk mendapat untung. Semakin sempit, sebaliknya. Nah, balik lagi ke pertanyaan awal: apa untungnya baca SELAMA KITA TERSESAT DI LUAR ANGKASA?Bukunya nggak kalah menarik dan nggak kalah kuat dibanding buku-buku luar yg jadi panduan baca kita (ya nggak "kita" sih, sejumlah orang lah). Cara Maggie menulis beda banget sama buku-buku lokal lain. Bukan berarti lbh baik ya, BEDA. Ini artinya, pas baca buku ini, kamu bakal mendapat keuntungan membaca sesuatu yg segar. Beda itu segar. (Bayangin tiap hari makan variasi gado-gado, ketoprak, rujak bumbu kacang terus tiba-tiba dikasih soto Betawi -- segar kan?) Nah, itu keuntungan pertama. Buku ini semacam oasis di tengah padang gurun gersang. Saya bukan sastrawan sih, jadi nggak bisa nilai secara akademis segarnya di mana. Jadi coba aja sendiri ya. Keuntungan kedua, tema-tema yg diangkat Maggie dalam buku ini pny tingkat kesederhanaan dan kompleksitas yg seimbang. Menurut saya, cerita yg bagus itu bisa mencari titik kompleksitas dari sesuatu yg sebenarnya sederhana banget. Dan buku ini contoh yg pas banget. Dengan begitu pembaca bisa mencoba mengerti situasi pelik yg kerap dialami org2 di sekitar. Mulai dari rumah tangga yg retak sampe korban perang. Keuntungan ketiga, wawasan. Bahkan tanpa harus diworo-woro di bagian belakang buku tentang intensitas riset untuk buku ini, sudah terlihat jelas dari atmosfir yg dibangun setiap cerita bahwa risetnya pasti rumit. Ini salah satu poin terhebat ttg buku ini menurut saya. Riset yg kuat diblend rapi ke dalam cerita sampai kita terhanyut. Thumbs way up!Keuntungan keempat, saya pribadi merasa, sehabis baca SELAMA KITA TERSESAT DI RUANG ANGKASA, agak tergugah untuk jadi manusia yg lebih baik. Karena di setiap cerita dalam buku ini saya merasakan gimana sih rasanya jadi warga kelas dua, jadi orangtua yg gagal berumah tangga, jadi suami yg semakin jauh dari istri, jadi penggila video game, dan banyak lainnya (tenang, dalam buku ini ada 14 cerita!) Terkadang ini yg susah dilakukan kebanyakan penulis. Tidak hanya memotivasi pembacanya untuk sukses atau untuk mencari cinta sejati -- buku yg panjang umurnya cenderung memotivasi pembaca untuk jadi manusia yg lebih baik dgn membuka mata mereka terhadap hal2 yg sebelumnya bahkan nggak kepikiran. Keuntungan kelima, saya bisa berbangga bahwa ini karya lokal. Ternyata Indonesia masih punya penulis dgn ketajaman nalar spt Maggie dan nggak takut melawan arus. Salut. Hats off to Ms. Tiojakin!Saya pasti baca karya2 berikutnya!
review 2: Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa memberikan pengalaman yang berbeda dari karya-karya Maggie sebelumnya. Kumpulan cerita bertema absurditas ini membawa pembaca pada suatu momen fiksional yang terasa nyata. absurditas sudah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Betapa hidup sendiri kadang selalu gagal menyajikan kisah indah bak opera sabun picisan di layar kaca.Saya menikmati pembacaan kumpulan cerpen ini. Semuanya sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan dalam buku Maggie sebelumnya, Balada Ching-Ching. Semua cerpen disini terasa lebih hidup dan nyata. Agaknya juga melekat erat dengan keseharian rutinitas kita.Saya hampir tidak mampu menentukan cerpen mana yang paling saya sukai. Saya suka semua cerpen disini. Rasanya seperti menonton scene sebuah film yang tak berawal dari awal dan tak berakhir pada ending. Namun, bila harus memilih, saya akan memilih cerpen berjudul "Jam Kerja". Saya suka cara Maggie bercerita dengan sudut pandang seperti dalam cerpen itu. Mengingatkan saya pada cerpen SGA, "Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian".Melalui buku ini, Maggie Tiojakin sekali lagi menunjukkan kualitasnya. Baik secara kepengarangan maupun dalam penulisan cerita. Maggie tidak hanya sekedar bercerita. Maggie juga menampilkan dan juga membuka tabir yang barangkali selama ini belum kita ketahui, lewat riset yang intens. Hal yang sangat mempengaruhi dan mendominasi isi serta jalan cerita.Satu hal terbaik dari buku ini adalah catatan penulisnya sendiri di akhir buku ini. Maggie menceritakan proses perjalanan penulisan kumpulan cerita absurd ini dengan membahas absurditas itu sendiri. Pun, dengan beberapa catatan (maybe it's a personal notes) dibalik cerpen yang ditulisnya menjadikan buku ini memiliki kesan personal yang mendalam. Argo Parahyangan, 3 Februari 2014. less
Reviews (see all)
BOOKGRL
I had a very good time reading this book. Excellent!
Jessiica3
Isinya semacam cerpen. Aku dibuat mengantuk, maaf!
shelby
Selamat tersesat!
Myst036
Speechless.
chloef
502 - 2013
Write review
Review will shown on site after approval.
(Review will shown on site after approval)