Menyimak Kisah Cinta 2 Kodi dan Misi Menulis Asma Nadia

Meski sudah beberapa kali bertemu muka dengan mba Asma Nadia dalam sesi bedah buku/film, diskusi menulis, atau nonton bareng dengan mba Asma, tetap saja kesempatan untuk bisa belajar lagi secara langsung pada ibu dua anak ini tidak saya sia-siakan. Pagi ini misalnya, saya ikut duduk menyimak acara Diskusi Buku Cinta 2 Kodi yang diadakan oleh Pustaka BKF.

Mba Asma Nadia mengawali pemaparannya dengan mengenalkan diri dan keluarganya. Teladan dari tokoh-tokoh yang berjuang dari keadaan serba-kekurangan, yang dikutip dari buku No Excuse karya suami mba Asma ikut dikisahkan.

Tulisan-tulisan mba Asma membahas berbagai hal, salah satunya tentang jomblo. Jomblo seringkali dianggap sebagai kaum yang ngenes, banyak pula meme yang beredar meledek betapa hinanya status jomblo. Padahal menurut mba Asma, jomblo biasanya ada di usia produktif dengan stamina dan waktu luang yang sayang kalau disia-siakan. Maka lahirlah buku untuk ‘menyelamatkan para jomblo’ seperti Catatan Hati Seorang Gadis. Sedangkan buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin terinspirasi dari kejadian saat mba Asma umroh. Mba Asma melihat bahwa saat ibadah pun, muslimah bisa jadi menyebalkan. Makanya dibuatlah buku tersebut agar menjadi bekal bagi para muslimah untuk tampil cantik tanpa berlebihan, dari segi kerapian penampilan maupun tingkah laku.

Hingga saat ini mba Asma sudah menjelajahi begitu banyak kota dan negara. Perjalanan yang ditempuh juga menginspirasi sejumlah karya mba Asma, di antaranya Jilbab Traveler dan Jilbab Traveler Love Sparks in Korea. Harapannya, apa yang dibagikan bisa membantu para traveler khususnya yang beragama Islam. Dari pengalaman pula-lah mba Asma menangkap adanya kebutuhan akan perlengkapan bepergian seperti ransel yang ringan dan sajadah lipat antiair, kemudian memproduksi juga barang-barang ini dengan namanya sebagai merk.

Banyak buku mba Asma juga terfokus pada sosok ibu, untuk mengingatkan akan peran dan kesabaran para ibu, termasuk Cinta 2 Kodi. Ada pula buku yang mengangkat topik ketika nikmat sehat diuji, seperti Assalamualaikum Beijing, Cinta Laki-laki Biasa, dan Surga yang Tak Dirindukan 2. Idenya datang dari kisah nyata sungguhan yang menurut mba Asma bagus untuk diangkat, karena sungguh menggambarkan cinta sejati.

Materi prahara rumah tangga juga sering dituliskan oleh mba Asma, seperti dalam Catatan Hati Pengantin, Sakinah Bersamamu, Surga yang Tak Dirindukan, dan Cinta 2 Kodi. Inginnya sih buku-buku ini membantu pembaca belajar tentang pernikahan, termasuk mengenai ujian-ujian yang mungkin menyapa baik dari sisi pasangan, mertua, maupun anak. Memang jadinya sebagian topik dimaksudkan untuk prepare for the worst, sepertinya seram (sampai ada suami yang melarang istrinya membaca karena takut jadi paranoid), tapi sesungguhnya sekaligus mengajak bersyukur jika kita tidak mengalami tragedi yang sama. Ujian yang pernah Allah swt hamparkan pun adalah harta kita, yang bisa kita tuliskan agar orang lain bisa ikut belajar tanpa harus mengalami.

Mba Asma ingin perempuan-perempuan kita baik, bisa menjadi sandaran yang kokoh. Itulah kenapa mba Asma menulis lebih banyak untuk perempuan, karena perempuanlah yang mendidik dan merawat keluarganya, membesarkan anak-anak hingga menjadi orang yang baik. Dari anak-anak yang baik, bangsa dan negara juga diharapkan jadi baik.

Menurut mba Asma yang sudah menghasilkan 54 buku, Seri Catatan Hati selain dibuat sebagai sarana belajar juga punya muatan kritik sosial. Misalnya tentang bagaimana masyarakat suka menghakimi kondisi yang tidak dihakimi. Sekali lagi, keadaan orang lain yang diceritakan bisa menjadi pengingat bagi diri kita untuk senantiasa bersyukur.

Kenapa harus menulis? Ada setidaknya dua manfaat dari kegiatan menulis:
1. Mengabadikan proses jatuh bangun. Keberhasilan dan kegagalan menjadi pelajaran, bahkan meski tidak diterbitkan (misalnya untuk kalangan keluarga saja).
2. Menambah bekal ke surga, mendapatkan passive amal, pahala yang terus mengalir melalui kebaikan dari tulisan kita yang menginspirasi orang lain.

Dari segi finansial, menulis bisa menjanjikan keuntungan berkali-kali, karena bisa jadi cerita tersebut diangkat menjadi sinetron atau film. Profesi penulis juga merupakan profesi yang fair, karena tidak melihat seperti apa kondisi fisik orang yang mengambil jalan ini.

Riset menjadi hal yang penting dalam menulis. Syukur-syukur bisa riset lapangan langsung. Jika lokasinya sulit dijangkau karena jauh misalnya, pengalaman orang lain yang pernah ke sana yang dituliskan melalui blog bisa dijadikan pedoman, karena lebih ada soul-nya ketimbang riset dari artikel-artikel atau wikipedia. Kroscek dengan ahlinya seperti dokter juga diperlukan, jangan sampai logika dan faktanya salah, meski banyak ruang imajinasi.

Novel Cinta 2 Kodi memuat materi kewirausahaan, sesuatu yang belum pernah diangkat oleh wanita dengan nama asli Asmarani Rosalba ini. Mba Asma merasa bahwa antara dirinya dengan bunda Kartika, sang pengusaha busana muslim yang kisahnya diangkat dalam novel tersebut, punya banyak kesamaan. Film yang diadaptasi dari novel Cinta 2 Kodi siap diluncurkan dalam waktu dekat, antara lain masih menunggu kesiapan bintang utamanya, Acha Septriasa pasca-melahirkan.

Mba Asma mengarisbawahi prinsip no excuse yang sepertinya dianut juga oleh bunda Kartika. Masalah-masalah yang hadir dalam kehidupan Kartika meliputi lahir dari keluarga yang tidak mampu, orangtua tidak mendukung cita-cita, ayah bunda tidak harmonis (tetapi ada sosok ibu yang menguatkan), lingkungan sekitar selalu meremehkan, sering kehilangan pekerjaan, pacaran 6 tahun hanya untuk dikhianati, sampai dengan dikecam sana-sini apa pun bentuk jualannya.

Beberapa inspirasi dari buku Cinta 2 Kodi adalah masa lalu yang sulit ternyata menguatkan, kita harus selalu ingat bahwa Islam comes first, bekerja dengan nurani, mulai dari yang kecil, jatuh untuk bangkit, tidak surut oleh kecaman, dan kita pun perlu belajar membuat prioritas (termasuk untuk berolahraga secara khusus). Kutipan dari mba Asma yang menarik: Udara negatif tidak akan terhirup kecuali kita mengizinkan. Anggap saja komentar negatif yang menjatuhkan itu tidak cukup penting untuk kita ambil hati.

Tulisan pertama mba Asma yang difilmkan adalah Emak Ingin Naik Haji. Awalnya cerpen ini ditulis atas permintaan majalah Noor. Sebelumnya, mba Asma sudah punya keinginan menulis tentang haji, tapi khawatir dengan bayang-bayang tulisan sang kakak, mba Helvy Tiana Rosa yang sudah lebih dulu menulis Juragan Haji. Tapi jalan Allah membawa cerpen tersebut bisa dituntaskan, bahkan dibuat filmnya.

Terkait perbedaan konten ketika tulisan berganti medium dalam bahasa gambar bergerak, menurut mba Asma tidak masalah kalau isinya tidak persis sama, karena cerpen diangkat ke film itu kan pengayaan (atau pengurangan, jika diangkat dari novel). Yang penting, setia dengan idenya dan mba Asma dilibatkan dalam diskusi pengembangan skenario. Oh ya, di film Duka Sedalam Cinta yang diangkat dari tulisan mba Helvy, yang akan diputar mulai tanggal 19 Oktober nanti, mba Asma ikut mencicipi jadi pemain film, lho…

Mba Asma juga berbagi tips menulis. Untuk mengatasi writer’s block atau kehabisan ide, mba Asma biasa jalan-jalan, makan bersama suami, dst. Diskusi di komunitas menulis juga bisa membantu. Ide, menurut mba Asma ada di mana-mana. Banyak momen yang bisa memantik imajinasi di sekitar kita, termasuk dari mimpi dan kemalangan. Maka penulis harus banyak buka mata buka telinga, meningkatkan ke-kepo-an. Sediakan sarana untuk mencatat, termasuk dialog-dialog yang nyata terjadi untuk bahan agar tulisan kita lebih hidup.

Namun ide yang datang dari pengalaman pribadi harus disaring, dicari mana yang relate dengan masyarakat, jangan hanya yang menarik bagi penulis saja. Ada memang hal remeh yang jadi tidak perlu dimuat (lewati saja) atau diolah lagi, karena lebih baik fokus pada hal lain. Contohnya, Jilbab Traveler Love Sparks in Korea sebetulnya berangkat dari kisah persahabatan mba Asma dengan lelaki Korea, tetapi kisah cinta biasanya akan lebih menarik minat pembaca ketimbang persahabatan. Hindari juga menulis sambil mengedit, sebentar-sebentar mikir, wah ini kok kayaknya lonyol ya, ketikan ini salah nih, dst. Selesaikan dulu setidaknya satu bab misalnya, endapkan dulu beberapa waktu, baru bedah lagi dengan kacamata editor.

Anak-anak mba Asma yaitu Caca (Putsi Salsa) dan Adam Putra sudah menulis dan bukunya diterbitkan sejak kecil, hingga menerbitkan minat peserta untuk menanyakan, apa tipsnya? Kata mba Asma, dekatkan anak-anak ke acara kepenulisan, belikan buku yang ditulis oleh anak-anak khususnya yang seusia. Adam, anak kedua mba Asma lebih suka berolahraga, tetapi di usia 9 tahun ia melihat bahwa ketika sekeluarga diundang ke acara-acara kepenulisan ada empat orang yang datang dengan tiga buku yang dipajang. Jadilah Adam ingin menulis, katanya supaya keluarga lebih terlihat kompak. Meski, setelah dua buku lalu Adam lebih memilih fokus ke hobinya, bahkan saat ini sedang sekolah sepakbola di Spanyol karena ingin menjadi pesebakbola yang beriman. Membangun imajinasi di keluarga, misalnya dengan aktivitas sambung-menyambung cerita antar anggota keluarga seperti yang dicontohkan mba Asma, bisa dipraktikkan.

#ODOPOKT8

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Advertisements Share this:
Like this:Like Loading... Related