Segalanya adalah Kasih Karunia

Brennan Manning adalah contoh dari skandal kasih karunia. Seorang Pastur dari ordo Fransiskan yang kecanduan alkohol, melepaskan keimaman karena menikah, untuk kemudian bercerai dari istrinya. Pernah menjadi marinir dan ikut berperang di Korea. Ditahbiskan pada tahun 1963, dan kemudian melayani di antara orang-orang miskin di Perancis, Swiss, dan Spanyol. Kembali ke Amerika, dan kembali bergumul dengan kecanduannya. Dalam kata-katanya sendiri,

Saya pernah menjadi pastur, dan kemudian mantan pastur. Suami dan mantan suami. Mempesona penonton pada satu malam, dan kemudian besoknya berbohong pada kawan-kawan. Mabuk selama bertahun-tahun, bertobat untuk satu musim, dan kemudian jatuh dalam mabuk-mabukan lagi…. Saya pernah jadi Yohanes yang dikasihi, Petrus si pengecut, dan Thomas si peragu, bahkan sebelum pelayan membawa tagihannya. Saya pernah melanggar semua perintah dalam Sepuluh Hukum enam kali dalam hari Selasa. Dan kalau anda percaya kalimat terakhir hanyalah untuk efek dramatis, tidak sama sekali.

 

Ia meninggal tanggal 12 April 2013, dalam usia 79 tahun. Meninggalkan 15 buku, yang sebagian besar merupakan pergumulannya dengan kasih karunia Allah. Artikel di bawah ini merupakan sebuah penghargaan bagi Brennan Manning yang ditulis oleh Tullian Tchividjian, cucu Billy Graham, yang juga berada dalam kontroversi karena terlibat dengan beberapa dosa seksual, bahkan setelah ia menjadi penulis dan pengajar kasih karunia, dan yang kemudian harus melepaskan jabatannya sebagai gembala sidang.

Jauh sebelum kebangkitan kembali ketertarikan akan “berpusat pada Injil”, Brennan Manning adalah sebuah suara yang memanggil dari daerah belantara. Melalui banyak buku dan pesan-pesannya, ia mengingatkan bahwa kita adalah pendosa besar, namun Allah adalah Juruselamat yang lebih besar. Dengan kelemahan dan kehancuran yang parah, Brennan adalah seseorang dengan misi yang bersemangat untuk mengingatkan kita akan kebenaran bahwa dosa-dosa kita tidak akan pernah mengalahkan pengampunan Allah. Ia sangat menginginkan orang-orang Kristen yang kacau, kalah dan kelelahan akut (seperti dirinya sendiri) untuk dapat menemukan kembali rasa Kasih Allah yang berapi-api bagi mereka.

Seorang peminum yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk melawan kuasa kecanduan, Brennan terbuka tentang kelemahan dan kegagalannya, yang menjadikannya kandidat utama untuk mengajarkan kepada kita tentang kasih karunia Allah yang kelihatannya memalukan (2 Kor 12.9). Setiap pecandu yang saya kenal, semua orang yang telah celaka dan terbakar, dan sebagai hasilnya berdamai dengan ketidakmampuan mereka – telah mengajar saya sesuatu tentang kasih karunia Allah yang tidak bisa saya rasakan dengan cara yang lain.

Kehidupan Brennan yang acak-acakan adalah sebuah kesaksian hidup bahwa konsekuensi dosa  secara horizontal tidak akan dapat mengalahkan “tiada lagi penghukuman” yang merupakan milik kita dalam Yesus. Dosa-dosanya mengakibatkan begitu banyak kesedihan dalam hidupnya dan hidup orang lain. Begitu dalam kegagalannya yang hanya dapat dia lewati karena kekagumannya akan pengampunan Allah yang tidak pernah berhenti. Ia memahami bahwa mempercayai pengampunan Allah atas dosa kita bukanlah sebuah pelecehan akan kasih karunia, namun merupakan pengakuan yang memuliakan Allah. Pengharapannya adalah pengampunan Allah yang pasti. Itulah tali penolong hidupnya. Karena tidak bisa mengandalkan apapun pada dirinya, ia mengandalkan segalanya pada Yesus. Dalam pemahaman ini, kegagalannya yang tercatat dengan baik merupakan sebuah karunia baginya. Dan bagi kita.

Dia pernah menulis, “dalam usaha yang sia-sia untuk menghapus masa lalu,  kita telah menghalangi komunitas mengalami karunia pemulihan. Ketika kita menyembunyikan luka-luka karena rasa takut dan malu, kegelapan dalam batin tidak dapat diterangi ataupun menjadi cahaya bagi orang lain.“ Saya berterima kasih pada Allah untuk penolakan berani  Brennan untuk menyembunyikan kegelapan batinnya.

Sebagaimana saya juga sedang bergumul dalam beberapa tahun belakangan dengan rasa bersalah, rasa malu dan penyesalan yang disebabkan dosa dan keputusan yang merusak, Brennan telah memberikan saya pengharapan yang besar. Kehidupannya yang tragis dan berantakan memberikan saya jaminan bahwa Allah mengasihi dan menggunakan orang-orang brengsek, karena memang yang ada hanyalah orang-orang yang brengsek. Dia telah terus-menerus menjadi pengingat bahwa kekristenan bukanlah tentang orang-orang baik yang menjadi lebih baik – jikapun ada, kekristenan adalah kabar baik untuk orang-orang brengsek yang sedang bergumul dengan kegagalan mereka untuk menjadi baik.

Saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu Brennan. Namun saya tahu orang-orang yang mengenal dia dengan baik. Dan hasilnya adalah hidup mereka tidak pernah sama lagi. Dia mengenal Yesus, mengasihi Yesus dan sekarang sudah bersama Yesus – akhirnya menikmati dampak kebebasan penuh yang selama ini ia ingin alami.

Pada malam kematiannya, saya duduk di tempat tidur dan membaca (sekali lagi) kata-kata luar biasa dari pengantar buku larisnya The Ragamuffin Gospel – yang mengungkapkan hati yang rindu untuk melihat orang-orang yang menderita dan para pendosa dibebaskan oleh keindahan dan kegemilangan kasih karunia Allah:

The Ragamuffin Gospel ditulis bagi mereka yang kacau, kalah dan kelelahan akut.

Bagi mereka yang berbeban berat, namun masih memindahkan koper berat dari tangan yang satu ke tangan yang lain.

Bagi mereka yang goyah dan lemah yang tahu mereka tidak punya-apa, dan terlalu tinggi hati untuk  menerima sedekah dari anugerah yang ajaib.

Bagi mereka para murid yang tidak konsisten dan tidak stabil, yang kejunya jatuh dari biskuit mereka.

Bagi pria dan wanita yang miskin, lemah, berdosa dengan kesalahan turun-temurun dan talenta terbatas.

Bagi bejana tanah liat yang berjalan dengan kaki tanah liat.

Bagi yang telah bungkuk dan memar, yang merasa bahwa hidup mereka sangat mengecewakan Tuhan.

Bagi orang-orang pintar yang tahu bahwa mereka adalah murid bodoh dan jujur, yang mengakui bahwa mereka adalah bajingan.

Injil Ragamuffin adalah buku yang saya tulis untuk diri saya sendiri dan siapa saja yang telah merasa lelah dan berkecil hati di sepanjang Jalan Tuhan.

Seperti Brennan, saya merindukan agar orang-orang yang menderita dan para pendosa dibebaskan dari rasa bersalah dan malu, dan mendapatkan ketenangan dalam kasih Allah yang tidak berubah, tidak dapat dimengerti dan tidak bersyarat.

Seperti Brennan saya rindu agar orang-orang yang hancur, terbebani dengan banyak penyesalan dapat memahami bahwa kekristenan bukanlah bagi orang-orang baik yang berusaha keras. Kekristenan itu  bagi orang-orang brengsek yang telah menyerah dan melemparkan diri mereka pada belas kasihan Yesus yang mengampuni.

Bersama Brennan, saya percaya bahwa kabar baik anugerah Allah membawa kuasa untuk mmberikan pengharapan bagi mereka yang putus asa dan memberi petunjuk bagi kita orang-orang yang sudah mulai melepaskan kebiasaan mengandalkan kinerja untuk kembali pada kelegaan dan kebebasan dalam Salib.

Bersama Brennan, saya mendukung anda untuk membuka topeng dan merangkul sisi gelap kita – dengan mengetahui bahwa penerimaan dan kasih Allah selamanya tetap dan tidak terpengaruh anda yang sedang berpura-pura mnejadi seseorang yang lain.

Bersama Brennan saya mengundang anda untuk meninggalkan ‘jika’, ‘dan’, atau ‘tapi’ di belakang dan menemukan kelegaan dalam satu-satunya pesan yang berarti – dan satu-satunya pesan yang kita miliki – yaitu firman tentang kasih Allah yang satu arah bagi para pendosa.

Robert Capon pernah berkata bahwa saat ini adalah waktunya bagi kita untuk ‘melepaskan sekali untuk selamanya agama main-aman kita dan mabuk dalam anugerah – yaitu seratus persen kasih karunia. Kemabukan seperti inilah yang akan didukung oleh Brennan, apalagi di tempatnya berada sekarang.

Keradikalan anugerah mengejutkan dan menakutkan, tidak alami dan tidak bisa dijinakkan. Namun seperti yang sudah saya temukan dengan cara-cara yang baru, ini juga merupakan satu-satunya cara yang membebaskan, memberi pengharapan dan memulihkan hati yang hancur.

Brennan mendapatkan hal itu. Brennan mengalami itu dengan lebih baik sekarang.

Ketemu lagi di sana, saudaraku.

Advertisements Share this:
Like this:Like Loading... Related