Rate this book

Pak Beye Dan Istananya (Tetralogi Sisi Lain SBY) (2010)

by Wisnu Nugroho(Favorite Author)
3.17 of 5 Votes: 1
languge
English
genre
publisher
PT Kompas Media Nusantara
review 1: Di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti memiliki kelemahan dan kekurangan, termasuk seorang Presiden sekalipun. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Begitu yang termaktup dalam ajaran agama.Buku Pak Beye dan Istananya karya Wisnu Nugroho ini ingin membedah sisi lain di balik pesona seorang Presiden dan gemerlap Istananya. Seperti kebanyakan orang, Pak Beye juga manusia biasa yang memiliki segudang kekurangan. Seperti yang dituliskan pada bab V tentang “Pernik-Pernik Pak Beye” misalnya. Di sini penulis menyoroti banyak hal, seperti tahi lalat Pak Beye yang hilang, soto ayam kegemaran Pak Beye, sampai kasur empuk Pak Beye yang diusung dari Istana Merdeka ke Istana Negara.Secara kasat mata, tulisan Inu ini memang terkesan mengungkap hal-hal yang ti... moredak penting tentang Pak Beye dan segala sesuatu yang ada di kompleks Istana Kepresidenan selama satu periode (2004-2009). Tapi, karena ditulis oleh wartawan Istana yang pernah mengenyam pendidikan filsafat dan mengetahui secara detail seluk-beluk dan siku-liku dinamika di Istana, buku ini menjadi amat menarik dan sarat dengan pesan-pesan tersembunyi.Simaklah kisah pada tajuk “Melihat Pak Beye Gak Pede”. Dalam sambutannya di podium, Pak Beye selalu berpesan kepada para menterinya, bahkan pesan ini mungkin sudah puluhan kali beliau sampaikan baik kepada pejabat berlevel teri mapun kelas kakap. “Mari kita lakukan (lagi) kampanye besar-besaran untuk mengkonsumsi produk dalam negeri”. Ketika sidang usai, pesan tersebut menjadi aneh. Betapa tidak, seorang menteri perempuan diiringi ajudannya dengan gagahnya menenteng tas kulit berwarna putih dengan logo LV (Louis Vuitton). Melihat fakta itu, Pak Beye langsung kehilangan kepedeannya.Yang tak kalah menariknya, buku ini juga mendedah ihwal “tunggangan” para pejabat lengkap sampai satu bab. Barangkali, di sini, Inu ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa Istana Negara sesekali bisa disulap menjadi tempat pertunjukkan mobil papan atas. Sebab, saat rapat kabinet, halaman Istana Negara kerap menyerupai showroom mobil. Puluhan Toyota Camry hitam, mobil dinas menteri saat itu (sekarang Toyota Crown), berjajar rapi. Tak pelak, Yenny Zannuba Wahid—yang pernah tinggal di Istana Merdeka—mengatakan membaca buku ini bak melihat teatrikal di negeri ini, lengkap dengan aktor-aktor di dalamnya.Kisah tentang makanan Pak Beye juga tak kalah menarik untuk disimak. Bu Budi, misalnya, sebagai juru masak kepresidenan selalu memilih belanja di pasar tradisional daripada di supermarket. Alasannya, daging, ikan, ayam atau sayur di pasar tradisional lebih segar. Menu yang kerap dimasak Bu Budi untuk Pak Beye, antara lain, gado-gado, pecel, trancam, sayur asam, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng, dan empal. Sedangkan camilan yang paling disukai Pak Beye adalah tahu sumedang. Jika masih hangat dan dihidangkan dengan cabai rawit, Pak Beye bisa menghabiskan sepuluh potong tahu.Ihwal PencitraanSeperti banyak dikatakan pengamat, kepemimpinan Pak Beye saat ini terkesan banyak pencitraan. Benar tidaknya asumsi tersebut pembaca bisa menilai sendiri di Bab IV. Seperti yang kita saksikan ketika Pak Beye diwawancarai doorstop atau konferensi pers dari layar kaca, seolah-olah presiden begitu dekat dengan wartawan dan mau dicegat untuk menjawab pertanyaan wartawan. Padahal, presiden mau memberikan keterangan di halaman Istana bukan karena dicegat wartawan. Ada skenarionya untuk itu semua.Dalam tradisi Istana, banyak hal yang kerapkali diskenariokan. Ketika ada konferensi pers di Istana atau di kediaman Pak Beye di Cikeas yang disiarkan langsung oleh stasiun televise, misalnya, semua sudah diatur dengan rapih dan sarat dengan polesan pencitraan tingkat tinggi. Seperti pertanyaan yang akan diajukan oleh para wartawan kadang sudah disiapkan dan dititipkan terlebih dahulu kepada sejumlah wartawan kepercayaan. Atau pun posisi-posisi yang tepat ketika hendak wawancara.Buku ini memberikan tesis berharga bagi pembaca ihwal sisi lain Pak Beye dan sisik-melik Istananya. Karena ternyata, sebuah Istana Kepresidenan tidaklah melulu menghadirkan berita-berita serius seperti laporan tentang rapat kabinet, upacara detik-detik proklamasi, tamu negara, hingga reshuffle kabinet. Namun hal-hal yang tak terduga, jarang diketahui oleh khalayak, serta bernuansa “narsis” juga banyak kita temukan.Buku Pak Beye dan Istananya ini adalah satu di antara “Tetralogi Sisi Lain SBY” (Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, dan Pak Beye dan Keluarganya) yang tengah terbit. Dari hasil wawancara sederhana saya dengan rekan-rekan muda, ternyata antusias untuk menyambut buku ini sangat tinggi. Bagi mereka, mengetahui hal-hal privasi dan sensitif dari orang nomor satu di negeri ini menjadi perlu. Hukum alam memang selalu berbicara demikian, semakin populis seseorang, semakin menarik untuk disimak perjalanan hidupnya.Namun, satu barangkali pernyataan teman saya yang cukup getir untuk didengarkan, “Kalau seperti ini, apa bedanya Presiden kita dengan selebriti yang ada di infotainment?” begitu kelakarnya di sela-sela ngobrol gayeng.
review 2: Dua jempol untuk Wisnu Nugroho. Kalau saja mas Inu tidak menerima paksaan kang Pepih untuk membukukan postingan2nya di kompasiana, tidak akan sebanyak ini org yg tahu sisi lain pak Beye dan istananya. Sebagai wartawan kompas yg ditugaskan meliput kegiatan pak Beye selama periode I, mas Inu sudah menyampaikan kegelisahannya selama ini dgn hal2 remeh temeh yg mungkin utk sebagian org tidak penting tp buat saya menjadi satu informasi tersendiri dan menjd tahu sisi lain pemimpin negara ini diluar panggung. Kekritisan mas Inu mungkin saja tidak dimiliki kebanyakan wartawan istana lainnya, mungkin saja ada yg sama kritisnya hanya saja krn merasa tidak penting akhirnya berlalu begitu saja tanpa membagikannya kpd publik.Semua bab yg ditulis mas Inu saya suka semua, hanya ada satu sub bab yg menarik buat sya yaitu ttg Ki Hujan. Ki Hujan adlh pohon jenis trembesi yg sdh ada sejak thn 1870, bahkan 3thn sblm istana merdeka dibangun pohon itu sdh tertanam. Andai pohon itu bisa bicara dialah saksi sejarah yg akan bnyk bercerita krn selama 140thn dia menyaksikan apa2 saja yg terjd di istana. Dia ada sejak jaman kolonial dan jg ikut menyaksikan pergantian 6x presiden di negeri ini.Andai ki hujan bisa bicara pasti banyak wartawan dr berbagai stasiun tv yg akan mewawancarai utk menanyakan rahasia2 sekitar pemimpin negeri ini.Salut buat mas Inu dan saya sedang menunggu utk bisa membaca buku ke-2nya pak beye dan politiknya. Tetaplah mengabarkan yang tidak penting, agar yg penting tetap penting. less
Reviews (see all)
Dian
mencoba mencari tahu yang ada di balik istana
princess246830
kaaknya cukup sampai 1 buku ini saja -_-
smartpeach
membosankan
Write review
Review will shown on site after approval.
(Review will shown on site after approval)