Rate this book

After Orchard (2010)

by Margareta Astaman(Favorite Author)
3.62 of 5 Votes: 1
languge
English
genre
publisher
Penerbit Buku Kompas
review 1: Membaca buku Margie tentang pengalamannya bersekolah di Singapura, mengingatkan saya tentang pengalaman anak saya yang saat ini bersekolah disana. Bedanya dia mendapatkan beasiswa hanya 50% dari uang kuliah setahun yang diberikan oleh pemerintah Singapura. Budaya yang berbeda dengan budaya indonesia mengakibatkan dia sempat merasa tidak memiliki teman. Sekarang walaupun dia sepeti Margie tetap cinta Indonesia, caranya bertindak mirip dengan orang Singapura, semua serba dihitung, jalan serba cepat - saya pun pernah dikritiknya karena kurang cepat jalannya . Bahkan antar sesama teman yang berasal dari indonesia pun, semua serba dihitung. Buku ini patut dibaca oleh mereka yang ingin bersekolah di Singapura. Setidaknya mereka tidak mengalami gegar budaya. Belum lagi dengan ti... morengkat persaingan yang tinggi. Dosen yang mengkritisi tanpa ampun cenderung sinis. Hal-hal seperti ini tidak ada dalam buku pengantar universitas. Sepintas memang seolah-olah Margie seperti tidak berterimakasih tetapi apa yang ditulisnya adalah bentuk kepedulian terhadap mereka yanf merasa bersekolah di Singapura tidak jauh dari saat berjalan-jalan menikmati Orchard.
review 2: Baca buku ini di toko buku Gramedia. Hee hee, nggak beli. Gara-gara ada seorang teman yang mention aku di twitter tentang buku ini.Well, jujur aku lupa-lupa ingat gimana kisah buku ini, namun ada garis besar yang masih melekat dibenakku, buku After Orchard mengambarkan sisi Singapura yang lain. Sisi yang mengejutkan dari sebagian besar kita, hanya berkunjung ke Singapore sebagai turis, namun penulis menggambarkan buku ini dari sudut pandangnya yang pernah hidup di Singapore selama 4 tahun. Pahit manisnya. Celotehan penulis lebih ke realita Singapura yang kurang manusiawi. Sedikit pengalaman positif yang diutarakan.Aku tinggal di Singapore hampir 6 tahun, dari kuliah dan kerja, kalau aku pikir-pikir,- hidup di Singapore memang keras, individual, namun tidak senegatif yang ditulis disini. Ya, pengalaman tiap orang beda-beda.Seingatku, tinggal di Singapura malah banyak mengubah diriku, menurutku, mengubahku menjadi lebih baik. Antara lain;1. Sebelum hidup di SG, aku nggak begitu peduli dengan orang buang sampah sembarangan, menurutku itu bukan urusanku, aku bukan polisi atau dinas kebersihan, namun setelah hidup lama di SG, aku bisa marah-marah melihat orang buang sampah sembarangan, begitu juga bagi yang merokok dalam ruangan, nyerobot antrian. 2. Ketika aku kembali ke Indonesia dalam waktu beberapa minggu, dan menguping pembicaraan cewek-cewek di mall, mereka saling gosip, mengurusi dan nyela-nyela gaya orang lain. Tiba-tiba aku rindu Singapore. Teramat sangat. Singapore, negara dimana kamu bebas berekpresi selama tidak menganggu kepentingan umum. Mau bergaya aneh, orang-orang nggak peduli. Beda dengan Indonesia, kita selalu menjaga gengsi, dan peduli dengan "APA KATA ORANG"3. Di pekerjaan memang mengalami work-pressure, tapi tidak ada peer-pressure. Di Indonesia, ketemu teman nyokap, ah, belum kawin juga, padahalkan sudah pantas. Aku rindu kehidupan SIngapore yang tidak mengenal basa basi bullshit ini. 4. Aku dulu sering ngaret, dan kalau tidak ngaret rasanya salah.. dan kalaupun aku nggak ngaret, orang akan menganggap aku sok rajin, sok serius.... ketika hidup di Singapura, aku berubah menjadi orang yang sangat menghargai waktu dan tidak bisa mentolerir keterlambatan. Dan ketika aku kembali ke Indonesia, teman-teman Indo ku yang dulunya suka ngaret, tapi masih tetap ngaret, semakin tidak mengenalku, menganggap aku sok serius dan nggak asik. Aku merasa, memang seharunya begitukan. Ngaret itu tanda kita nggak bisa menghargai orang lain, hal ini yang nggak pernah terpikirkan bagiku dulu, ketika aku hidup di budaya kita yang serba tidak pasti. 5. Ketika sampai di Indonesia, aku bosan dengar cewek-cewek manja. Di Singapore, cewek-cewek pada tough. Memang, mereka pada emotionless, aku rasa itu better daripada shitnetron. Mungkin, Singapore juga mengubahku menjadi cewek yang sangat tough.6. Ketika lagi jalan-jalan sendiri di hutan, macritchie reservoir, aku kehujanan... tiba-tiba, anak SD berumur 10 tahunan, menyuruh aku berpayung sama keluarganya, dan keluarganya minjemin aku jas hujan plastik yang pada akhirnya, jas hujan itu dikasih secara cuma-cuma ke aku.7. Aku pernah hampir overstay karena sesuatu hal, teman SIngapore aku yang memberikan sponsorship ke aku selama seminggu.8. Waktu kecil, aku termasuk anak kutubuku. Dan aku pindah ke Jakarta, aku lebih banyak jalan, ngemall, nongkrong ngabisin waktu. Mungkin, selama di jakarta,- aku nggak begitu banyak baca buku, hanya 2 atau 3 buku dalam setahun.Ketika di Singapore, ketemu toko buku besar, aku kembali seperti yang dulu. Terlebih dengan adanya national library yang raksasa, dan juga banyak library terserak dimana2, bahkan di mal.. surga bagi pecinta buku. Rasanya, aku ingin mengulang masa-masa di Jakarta yang aku habiskan dengan sia-sia, hanya untuk nongkrong di mall nggak jelas, dan mengubahnya lebih berkualitas.Di pekerjaan dan sekolah, hidup di SG memang sangat individual, susah menemukan budaya kerja kayak di Indonesia. Dimana sesama kolega bisa saling bersahabat, curhat. Persaingan sangat tinggi, mereka membedakan mana yang teman dan mana yang kolega. Salah satu faktor kenapa tingkat korupsi sangat rendah, (selain gaji pejabat sangat tinggi), di Singapura, mereka dididik untuk punya sifat 'kiasu', mereka selalu ingin menjadi lebih dari yang lain. Di Indonesia, kita sering nyontek berjamaah, aku akui.. bahkan, guru-guru pun nganjurin nyontek berjamaah di UAN. Selama, sebagian besar muridnya lulus. Dan tidak menodai nama baik sekolah.Hal ini yang gak ada di karakter anak-anak Singapura. Mereka lebih suka sendiri-sendiri. Aku punya pengalaman, waktu aku sekolah di SG, aku punya project bikin Game menggunakan Lingo Script. Syarat kelulusan kita, Game ini harus punya Score, dan Scorenya jalan ketika dimainkan. Game aku scorenya hanya diam, padahal gamenya jalan. Aku nggak bisa ngatasin error ini.Aku tanya ke teman Singaporeku,- yang tampangnya nerd. Dia mau ngajarin, sampai Game ku sukses. Tapi, setelah itu... dengan tanpa bersalah, dia hapus hasil kerjaannya. Dan bilang, yang penting kamu udah ngertikan, and do it by yourself now. Hal ini akan aneh, dan kalau terjadi di Indo, kita akan bilang .. ah lo pelit, gak asik... hal ini biasa di SG. Saking seriusnya mereka. Beda dengan Indonesia yang 'semangat gotong royongnya tinggi', mungkin hal ini yang bikin para pejabat dengan cueknya korupsi berjamaah.Pengalaman tiap orang beda-beda. Singapore, memang bukan seperti Indonesia yang banyak manja-manja dan kehebohan nggak penting, rileks..... that's life. Enjoy saja lagi. ngomel-ngomel dgn menceritakan hal-hal yang negatif hanya akan membuat kita kelihatan kurang profesional... terlebih, ke Negara yang sudah 'mendidik', memberi ijazah yang lebih baik, pengalaman yang lebih Internasional, serta teman-teman Internasional.Ketika aku kembali ke Jakarta, aku bosan dengan segala kehemogenan. Aku rindu Singapore, negara dimana aku bisa menemukan berbagai macam bangsa dan jenis makanan. Juga mendengar berbagai macam bahasa. less
Reviews (see all)
yxvxoxo
Love it. Sangat menambah wawasan tentang life style di Singapore.
Emmie
Membuka mata tentang negeri tetangga dari sudut pandang yg lain.
Angi
Oo begitu tokh? Pantesan 9 dr 10 org yg gw temui pada jutek.
bestanurag
Singapore's real face
Write review
Review will shown on site after approval.
(Review will shown on site after approval)