Lolita (1997): The Most Controversial Movie of the ’90s

Hey Lolita, hey!

Hey Lolita, hey!

I know what the boys want, I’m not gonna play

 

Does the word “Lolita” sounds familiar to you? Yep. Mungkin lirik lagu di atas langsung membawa kalian ke salah satu lagu Lana Del Rey. But, nope. As much as I love Lana, saya tidak akan membahas musiknya, melainkan film Lolita (1997) garapan Adrian Lyne.

Sebelum menonton film Lolita, kata “Lolita” sudah memiliki arti tersendiri untuk saya. Kata tersebut berhubungan erat dengan “seks” dan “wanita penggoda”. And little did I know, I was right.

Dengan latar Amerika tahun 1950an, Lolita menceritakan tentang Humbert Humbert (Jeremy Irons, and yes, the character name is double Humbert. It’s not a typo), seorang profesor asal Inggris yang datang ke negeri Paman Sam untuk mengajar. Humbert menyewa sebuah kamar dari seorang perempuan bernama Charlotte Haze (Melanie Griffith), yang hanya tinggal dengan seorang anak perempuannya yang masih remaja, Dolores (Dominique Swain). Humbert, yang masih dihantui oleh kematian cinta pertamanya ketika ia masih remaja, tidak bisa mengendalikan rasa cintanya kepada wanita muda (which he refers as “Nymphets”) saat ia pertama kali melihat Dolores (atau Lo), yang sedang berbaring, membaca buku di halaman rumahnya dengan baju yang basah dan see through. Inilah awal mula perjalanan cinta Humbert dan Lo, yang pada akhirnya membawa Humbert ke balik jeruji besi.

 

No, I won’t talk about the plots of the movie any further. I don’t want to be a spoiler.

 

Anyway, film Lolita ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya Vladimir Nabokov dengan judul yang sama. Dalam novel ini, disebutkan bahwa Lo merupakan seorang gadis belia yang masih berumur 12 tahun, which brings up the issue, pedophillia. Sayangnya, dalam film garapan Adrian Lyne, Lo dikarakterisasikan tidak seperti seorang anak perempuan berumur 12 tahun. Dominique Swain terlihat lebih dewasa dan memainkan peran Lo dengan kesan yang sensual. Jadi untuk saya sendiri, film ini kurang lugas dalam menyampaikan isu tersebut.

Banyak momen di dalam film yang seperti mengimplikasikan bahwa Lo is actually flirting with Humbert, seperti saat Lo menghampiri dan secara tiba-tiba duduk di atas pangkuan Humbert yang sedang bekerja, memeluk Humbert secara tiba-tiba, juga mencium Humbert di bibir ketika Lo akan pergi ke summer camp. I mean, is that what a 12-years old girl actually behave with a stranger?

 

Cred. Tumblr

Mungkin saja. Mungkin ia punya daddy issues. Atau mungkin hal itu merupakan sebuah hal yang sangatlah wajar, seperti apa yang dipikirkan oleh Charlotte. Sikap Lo, yang selalu mencari-cari perhatian dan selalu genit kepada Humbert, seorang pria yang baru dikenalnya, dianggap wajar oleh sang Ibu.

Jawaban itu yang pernah ada di pikiran saya. Tetapi rasanya belum tepat. Ingat ketika Humbert pertama kali melihat Lo yang sedang membaca buku di halaman rumah dengan baju basah yang tembus pandang? Charlotte pun mendeskripsikan Lo sebagai wanita muda yang “liar”.

 

Cred. Tumblr

 

Cinta antar kedua manusia ini tentu sangatlah kontroversial. Namun, hal ini lah yang membuat Lolita menjadi sebuah karya yang menarik. Walaupun berbeda umur sangat jauh, pada dasarnya, Humbert yang santun dan canggung saling melengkapi dengan Lo yang agresif, liar dan juga nakal.

 

Advertisements Share this:
Like this:Like Loading...